Sudah seminggu
semenjak kepergian pacarku Bian, kini aku tak lagi bisa mendengar candanya yang
sering membuatku tertawa geli, tak ada lagi seseorang yang mengusap airmataku
disaat aku sedih, dan tak ada lagi belaian lembut yang selalu menghangatkan
hatiku, kini semua itu hilang tertelan waktu.
“La, kamu kenapa? Dari tadi kamu hanya melamun saja, ayo dong jangan begitu terus. Aku tau apa yang kamu pikirkan La, tapi aku yakin, kalau Bian ngeliat kamu kayak gini terus, dia juga bakalan sedih dan ngak tenang La.”
Aku hanya bisa
memandangi Alia yang dari tadi mencoba menghiburku, dengan sedikit menahan
tangis, aku hanya bisa menjawab
“Kamu ngak akan pernah
tau Al, kamu ngak akan pernah bisa ngerti perasaan aku, aku sayang sama Bian,
tapi Bian tega ninggalin sendiri. Kalau Bian ngak pengen ngeliat aku sedih
kayak gini, kenapa Bian ninggalin aku Al? Kenapa?”
“La, udah. Aku tau
perasaan kamu La, Bian juga temen aku, aku tau gimana rasanya kehilangan dia,
udah dong La, Bian pasti pengen ngeliat kamu bahagia lagi kayak dulu. Kamu
harus bisa memulai semuanya dari awal, tanpa dia”
Aku tau yang kulakukan
ini salah, tapi aku terlalu sayang sama Bian, apalagi Bian pernah berjanji pada
ku, akan selalu ada disampingku setiap saat, tapi sekarang? Dia sudah
mengingkari nya dengan meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
“Al, aku pulang dulu ya, aku pengen sendiri dulu. Sampai ketemu besok”
“La, kamu ngak apa- apa kan?”
“Ngak kok Al, jangan khawatir”
“Al, aku pulang dulu ya, aku pengen sendiri dulu. Sampai ketemu besok”
“La, kamu ngak apa- apa kan?”
“Ngak kok Al, jangan khawatir”
Saat ini pikiranku benar-benar
kacau, yang terlintas dalam benakku saat ini adalah ingin mengakhiri semua ini,
dan pergi menyusul Bian.
Aku pun berniat untuk mengakhiri hidupku. Dengan sengaja ingin ku menabrakkan diriku pada sebuah mobil yang sedang lewat, dan setelah itu aku tak ingat apa- apa lagi.
Aku pun berniat untuk mengakhiri hidupku. Dengan sengaja ingin ku menabrakkan diriku pada sebuah mobil yang sedang lewat, dan setelah itu aku tak ingat apa- apa lagi.
Tak berapa lama kemudian...
“Hey, kamu sudah sadar?”
“Hey, kamu sudah sadar?”
“Siapa kamu? Dan aku ada dimana?”
“Oh iya, kenalin aku Riko. Tadi aku ngeliat kamu hampir
tertabrak mobil dan kamu jatuh pingsan, jadi aku bawa kamu ke rumah kontrakan
ku ini. Kamu sendiri siapa?”
“Aku Nila, hm.. makasih ya”
“Nila ya? Tapi yang kulihat tadi, kamu seperti sengaja? Kamu ingin bunuh diri ya? Kalau kamu punya masalah, ceritakan saja padaku, itu juga jika kamu berminat”
“Nila ya? Tapi yang kulihat tadi, kamu seperti sengaja? Kamu ingin bunuh diri ya? Kalau kamu punya masalah, ceritakan saja padaku, itu juga jika kamu berminat”
“Kamu
ngak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini, dan terimakasih sudah
menolong aku, aku pulang dulu”
“Ta... Tapi..”
“Ta... Tapi..”
Aku pun meninggalkan cowok bernama Riko itu, dan memutuskan untuk tidak
mengulangi perbuatan bodoh ku lagi.
“Selamat Pagi Nila,
tumben pagi ini kamu datang kesekolah pagi-pagi sekali?”
“Memangnya ada apa Al? Apa ngak boleh?”
“Ngak kok La, jangan judes gitu dong. Aku jadi takut
kalau ngeliat kamu kayak gini, apa kamu ngak perhati’in, mata kamu udah sampai
bengkak gitu.”
“Terus? Ada masalah?”
“Ngak sih La, Cuma...”
Sebelum menyelesaikan perkataannya, bel masuk pun
berbunyi. Dan mereka kembali ketempat duduk mereka masing-masing.
“Selamat
pagi anak-anak”
“Selamat
pagi bu guru”
“Sebelum
memulai pelajaran hari ini. Ibu akan memperkenalkan seorang siswa baru kepada
kalian”
Awalnya aku tak sedikit perduli dengan apa yang dikatakan oleh guruku itu.
Namun dengan sedikit rasa penasaran aku mencoba melirik siswa baru itu. Dan aku
tak menyangka dengan apa yang kulihat ini, anak baru itu adalah Riko? Cowok
yang kemarin sudah menyelamatkan aku. Oh my God.
“Nila? Kamu kenapa La?
Kok bengong gitu?”
“Hah? Ng.. ngak kok
al”
Alia ngak boleh tau,
kalau aku kenal sama Riko, apalagi tentang perbuatan bodoh yang aku lakukan
kemarin. Alia ngak boleh sampai tahu tentang ini.
“Kenalkan anak-anak,
namanya Riko. Mulai saat ini Riko akan menjadi teman baru kalian, semoga kalian
bisa berteman baik”
“Iya bu”
Beberapa minggu berlalu sejak kehadiran Riko disekolahku, kami pun mulai
berteman baik, dan dia berhasil membuat aku melupakan sejenak tentang Bian,
tanpa kusadari sedikit demi sedikit Riko telah mencuri perhatianku. Walau dalam
pikiranku, tak akan ada yang bisa menggantikan Bian di hatiku. Tapi beberapa
hari ini Riko terlihat sedikit aneh, dia seperti orang yang berbeda. Tapi aku
seperti mengenal sesuatu yang berbeda didalam dirinya itu. Dari cara nya
berbicara, caranya memperhatikanku, semua itu seperti tak asing bagiku. Bian,
namanyalah yang terlintas didalam pikiranku pertama kali. Benar sekali,
akhir-akhir ini Riko terlihat seperti Bian. Mungkin sangat sulit untuk
dipercaya, tapi aku merasa Riko adalah Bian.
“Hey La”
Sontak panggilan itu
membangunkanku dari lamunanku. Aku segera mencari sumber suara itu, yang
ternyata berasal dari Riko.
“Hey Rik, kamu
mengejutkanku saja. Ada apa Rik?”
“Tidak ada apa-apa
kok, aku Cuma ingin bicara sama kamu aja La”
“Bicara tentang apa?”
“Hmm... Nanti sepulang
sekolah kamu ada acara ngak?”
“Kayaknya ngak ada
deh, emangnya ada apa Rik?”
“Gini lho, Kemarin
waktu aku jalan- jalan disekitar sini, aku ngeliat ada tempat yang bagus
banget, nanti pulang sekolah aku mau ajak kamu kesana, kamu mau ya”
“Hah? Kenapa kamu
ngajak aku? Kayak ngak ada orang lain aja”
“Please La, aku pengen
kamu nemanin aku kesana. Ayo lah..”
Aku tak sampai hati menolak ajakannya dan melihat Riko yang begitu memohon
padaku. Tapi pertanyaan yang terlintas dibenakku yaitu, kenapa dia berpikir
untuk mengajakku? Kenapa bukan Alia atau teman- temannya yang lain. Tapi, aku
juga kan temannya, jadi tidak ada salahnya kalau aku menerima ajakkannya kan?
“Udah dong Rik, jangan
memohon kayak gitu dong. Oke aku ikut”
“Aku tahu kok La, kamu
pasti mau”
Ya ampun.. Riko senyum sama aku? Dan senyumannya itu
manis banget, kenapa aku baru sadar ya?
Sepulang sekolah Riko telah menungguku didepan gerbang
sekolah.
“La, kamu mau kemana? Kamu ngak pulang?”
“Iya, kamu duluan aja Al, aku ada janji sama Riko”
“Eheem.. Kayaknya ada yang lagi PDKT nih, ya udah good
luck aja ya, aku senang kamu bisa membuka hati untuk orang lain lagi”
“Alia, kok kamu ngomong begitu sih? Aku dan Riko Cuma
temen kok”
“Ciee marah nih, teman atau teman ya? Hahaha. Iya La,
terserah kamu saja, aku hanya bercanda saja kok”
Alia lalu pergi sambil tersenyum mengejek padaku, tapi apa
benar yang dikatakan Alia kalau aku mulai bisa membuka hatiku pada orang lain?
Apakah orang itu Riko? Mungkin saja aku menyukainya, tapi dia tak akan pernah
bisa menggantikan posisi Bian didalam hidupku. Aku lalu menghampiri Riko dan
kami berdua pun pergi menuju ketempat yang dimaksud oleh Riko.
“Rik? Sebenarnya kita mau pergi kemana sih?”
“Lihat aja nanti”
“Tapi Riko, sepertinya aku sudah pernah lewat jalan ini,
tapi kapan ya?”
Riko hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dariku.
“Nah, kita sudah sampai”
“Riko? Tempat ini kan?”
Ya ampun Tuhan, mengapa aku bisa lupa dengan tempat ini?
Ini adalah tempat yang sering aku kunjungi bersama Bian, ini adalah tempat kenangan
kami berdua. Kenapa Riko bisa terpikir untuk membawa aku kesini? Banyak sekali
pertanyaan-pertanyaan dalam benakku sejak aku bertemu dengan Riko. Aku pun tak
bisa menahan air mataku lagi, dan aku mulai menangis dan kembali teringat
dengan kepergian Bian. Melihatku yang tiba- tiba menangis, Riko pun mendekat
kepadaku dan mulai memelukku. Aku sangat terkejut dengan respond yang dia
berikan padaku. Tapi aku hanya bisa diam.
“Kamu kenapa La?”
“Ngak kok Rik, aku ngak apa - apa”
“Aku mohon La, kamu jujur sama aku, kamu percayakan sama
aku? Aku tau, mungkin bagi kamu aku hanya orang baru yang tiba- tiba masuk
kedalam kehidupanmu, tapi tak selamanya kamu bisa beranggapan seperti itu, kamu
salah jika selalu memendam perasaan sedihmu itu seorang diri, sesungguhnya aku
tau apa yang kamu rasakan saat ini La.”
Mendengar perkataan Riko, Aku pun melepaskan pelukannya.
Dengan nada yang sedikit emosi aku pun menjawab perkataannya
“Apa kamu bilang? Kamu ngerti perasaan aku? Semua orang
yang ada disekitar aku pasti mengatakan hal yang sama, tapi apa? Kalian Cuma
mencoba menghibur ku saja. Ngak ada satu orang pun diantara kalian yang mengerti
tentang perasaanku, kamu, Alia, bahkan Bian sekalipun, kalian ngak akan pernah mengerti”
Tak berapa lama, aku merasakan tenagaku hilang seketika,
kakiku bergetar dan pada akhirnya aku terduduk lemas, dan mulai mengutarakan
semua yang ada dalam benakku selama ini.
“Aku sudah kehilangan orang yang paling aku sayang, dia
meninggal karena kecelakaan. Aku tahu, kalau bukan gara- gara aku, dia ngak
mungkin meninggal. Semua gara- gara aku Rik, aku harus kehilangan Bian, aku
memang bukan pacar yang baik untuk dia, Rik”
“Aku tau La, aku tau semua itu. Kamu tau kenapa aku bawa
kamu kesini? Aku hanya berpikir untuk menghilangkan rasa sedih yang kamu alami
saat ini. Kecelakaan itu bukan karena kamu, Bian meninggal karena dia sayang sama
kamu, bukan karena kamu La, kamu pasti tau, kalau setiap mahluk hidup yang
bernafas pasti akan mati. Begitu juga Bian, dia juga manusia, pasti ada saat
nya dia akan dipanggil menghadap yang Kuasa.”
Sekilas aku melihat cahaya terang datang dan menghilang. Ya
Tuhan, sejenak aku seperti melihat sosok Bian dalam diri Riko. Aku seperti
melihat Bian kembali hidup dalam diri orang yang berbeda. Apa ini hanya
perasaan ku saja?
Riko pun mendekati ku dan menghapus airmataku dengan
kedua tangannya, dan tanpa kuduga sebelumnya, Riko mencium kening ku dan
memelukku erat.
“Kamu tau La? Aku ngak mau ngeliat kamu seperti ini terus, aku ingin kamu tersenyum lagi, seperti dulu”
“Kamu tau La? Aku ngak mau ngeliat kamu seperti ini terus, aku ingin kamu tersenyum lagi, seperti dulu”
“Bian?”
Riko hanya tersenyum saat aku memanggilnya Bian
“La, aku hanya bisa bersama mu saat ini saja, walau
sesungguhnya aku ingin lebih lama lagi disampingmu. Tuhan telah memberi aku
kesempatan untuk bisa bersamamu lagi walau hanya beberapa menit saja, saat ini
aku adalah Bian, dan kamu tahu kalau aku kangen banget sama kamu, aku ngak
ingin melihat kamu sedih terus menerus semenjak kepergianku, aku ingin Nila
yang dulu, Nila yang selalu ceria dan tersenyum. Aku ingin kamu yang dulu La.
Alia benar, di atas sana aku selalu memperhatikanmu, aku selalu sedih tiap kali
melihatmu murung bahkan sempat berpikiran untuk mengakhiri hidupmu, satu-
satunya hal yang bisa membuat aku bahagia adalah senyuman kamu La, dan yang
paling membuat aku sakit dan tersiksa adalah melihat airmata yang menetes dari
mata indah kamu La”
“Kamu Bian? Kamu benar- benar bian?”
“Iya, untuk saat ini aku memang Bian, dan aku ngak punya
banyak waktu lagi. Aku ingin melihat kamu tersenyum bersama orang yang sayang
sama kamu. Kamu tahu siapa yang aku maksudkan, dia adalah Riko. Saat ini Riko
telah bersedia meminjamkan raganya untukku, aku yakin kamu pasti bisa bahagia
bersama Riko. Aku percaya kalau dia bisa membuatmu tersenyum seperti dulu lagi.
Aku sayang kamu La, sekarang dan sampai
kapanpun aku akan selalu sayang kamu”
“Bian, aku mohon jangan pergi lagi. Aku juga sayang sama
kamu Bian”
“Aku tau itu La, ijinkan aku melihat senyuman mu itu
untuk yang terakhir kalinya, aku mohon La”
Aku lalu menghapus airmata ku, dan memberikan senyuman
termanisku padanya, aku sangat sayang kamu Bian, hanya itu kata yang pertama
kali terlintas dalam benakku untuknya.
Dan pada akhirnya Bian pun pergi, walaupun begitu aku
merasa sangat senang, karena aku tau Bian juga sangat sayang sama aku. Aku tau
Bian tak ingin melihat aku sedih lagi, aku janji pada kamu Bian, aku ngak akan
membuat kamu khawatir.
Tak berapa lama, terdengar suara kecil yang memanggil
namaku
“Nila?”
Aku pun tersenyum memandang Riko yang baru sadar dari
pingsannya. Dengan segera aku menghampirinya dan membantunya bangun.
“Makasih ya Riko”
“Makasih untuk apa la?”
Tentu saja Riko yang tidak tahu akan hal yang baru saja
terjadi terlihat bingung dan masih merasa aneh dengan apa yang terjadi padaku.
Aku hanya bisa tersenyum, dan mencoba untuk kembali kedunia yang benar-benar
nyata.
“Makasih ya Rik, kamu udah buat aku sadar kalau hidup ini
indah. Aku tak akan mengulangi hal yang sama, aku yakin Bian ngak mau melihat
aku sedih, karena dia sayang sama aku. Benarkan Rik?”
“Ya La, kamu benar. Aku tau bagaimana perasaan Bian,
karena aku juga sayang sama kamu”
“Ri.. Riko?”
“Maaf La, aku tahu kalau aku memang tidak akan pernah
bisa menggantikan Bian didalam hati kamu. Tapi aku juga tak bisa lebih lama
lagi melihat kamu terpuruk dalam masa lalu mu. Aku tak pernah bisa melihat
gadis yang aku sayang selalu murung dan menangis. Mungkin aku terlalu cepat
untuk mengatakan ini padamu, tapi maukah kamu menjadi pacar ku?”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya itu, dan
tidak ada alasan bagiku untuk menolak pertanyaan darinya.
“Kamu tahu, pesan terakhir Bian untukku adalah kamu Riko.
Aku memang sayang sama Bian, tapi aku juga nga bisa menyangkal kalau aku juga
sayang sama kamu. Iya Rik, aku mau”
“Nah, kalau begitu mulai sekarang aku mau senyuman kamu
itu bukan hanya untuk Bian saja, tapi juga untuk aku ya”
Aku hanya tersenyum, dan mulai saat ini aku telah
berjanji pada Bian dan Riko kalau aku akan memulai lembaran baru ini dengan
senyuman. Karena aku sayang pada mereka berdua. Pada akhirnya Bayang-bayang
cintaku itu telah menjadi semangat baru dalam hidupku untuk mulai mencari cinta
yang baru. Dan semua itu dimulai ditempat yang sama, ditempat pertama kalinya
aku mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya.
-SELESAI-
By : Flo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar