Kamis, 23 Agustus 2012

Bayang-bayang cintaku


               Sudah seminggu semenjak kepergian pacarku Bian, kini aku tak lagi bisa mendengar candanya yang sering membuatku tertawa geli, tak ada lagi seseorang yang mengusap airmataku disaat aku sedih, dan tak ada lagi belaian lembut yang selalu menghangatkan hatiku, kini semua itu hilang tertelan waktu.
   
             “La, kamu kenapa? Dari tadi kamu hanya melamun saja, ayo dong jangan begitu terus. Aku tau apa yang kamu pikirkan La, tapi aku yakin, kalau Bian ngeliat kamu kayak gini terus, dia juga bakalan sedih dan ngak tenang La.”
                Aku hanya bisa memandangi Alia yang dari tadi mencoba menghiburku, dengan sedikit menahan tangis, aku hanya bisa menjawab
                “Kamu ngak akan pernah tau Al, kamu ngak akan pernah bisa ngerti perasaan aku, aku sayang sama Bian, tapi Bian tega ninggalin sendiri. Kalau Bian ngak pengen ngeliat aku sedih kayak gini, kenapa Bian ninggalin aku Al? Kenapa?”
                “La, udah. Aku tau perasaan kamu La, Bian juga temen aku, aku tau gimana rasanya kehilangan dia, udah dong La, Bian pasti pengen ngeliat kamu bahagia lagi kayak dulu. Kamu harus bisa memulai semuanya dari awal, tanpa dia”
                Aku tau yang kulakukan ini salah, tapi aku terlalu sayang sama Bian, apalagi Bian pernah berjanji pada ku, akan selalu ada disampingku setiap saat, tapi sekarang? Dia sudah mengingkari nya dengan meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
                “Al, aku pulang dulu ya, aku pengen sendiri dulu. Sampai ketemu besok”
                “La, kamu ngak apa- apa kan?”
                “Ngak kok Al, jangan khawatir”
                Saat ini pikiranku benar-benar kacau, yang terlintas dalam benakku saat ini adalah ingin mengakhiri semua ini, dan pergi menyusul Bian.
Aku pun berniat untuk mengakhiri hidupku. Dengan sengaja ingin ku menabrakkan diriku pada sebuah mobil yang sedang lewat, dan setelah itu aku tak ingat apa- apa lagi.
Tak berapa lama kemudian...
                “Hey, kamu sudah sadar?”
“Siapa kamu? Dan aku ada dimana?”
“Oh iya, kenalin aku Riko. Tadi aku ngeliat kamu hampir tertabrak mobil dan kamu jatuh pingsan, jadi aku bawa kamu ke rumah kontrakan ku ini. Kamu sendiri siapa?”
“Aku Nila, hm.. makasih ya”
“Nila  ya? Tapi yang kulihat tadi, kamu seperti sengaja? Kamu ingin bunuh diri ya? Kalau kamu punya masalah, ceritakan saja padaku, itu juga jika kamu berminat”
                “Kamu ngak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini, dan terimakasih sudah menolong aku, aku pulang dulu”
“Ta... Tapi..”
Aku pun meninggalkan cowok bernama Riko itu, dan memutuskan untuk tidak mengulangi perbuatan bodoh ku lagi.
                “Selamat Pagi Nila, tumben pagi ini kamu datang kesekolah pagi-pagi sekali?”
“Memangnya ada apa Al? Apa ngak boleh?”
“Ngak kok La, jangan judes gitu dong. Aku jadi takut kalau ngeliat kamu kayak gini, apa kamu ngak perhati’in, mata kamu udah sampai bengkak gitu.”
“Terus? Ada masalah?”
“Ngak sih La, Cuma...”
Sebelum menyelesaikan perkataannya, bel masuk pun berbunyi. Dan mereka kembali ketempat duduk mereka masing-masing.
                “Selamat pagi anak-anak”
                “Selamat pagi bu guru”
                “Sebelum memulai pelajaran hari ini. Ibu akan memperkenalkan seorang siswa baru kepada kalian”
Awalnya aku tak sedikit perduli dengan apa yang dikatakan oleh guruku itu. Namun dengan sedikit rasa penasaran aku mencoba melirik siswa baru itu. Dan aku tak menyangka dengan apa yang kulihat ini, anak baru itu adalah Riko? Cowok yang kemarin sudah menyelamatkan aku. Oh my God.
                “Nila? Kamu kenapa La? Kok bengong gitu?”
                “Hah? Ng.. ngak kok al”
                Alia ngak boleh tau, kalau aku kenal sama Riko, apalagi tentang perbuatan bodoh yang aku lakukan kemarin. Alia ngak boleh sampai tahu tentang ini.
                “Kenalkan anak-anak, namanya Riko. Mulai saat ini Riko akan menjadi teman baru kalian, semoga kalian bisa berteman baik”
                “Iya bu”
Beberapa minggu berlalu sejak kehadiran Riko disekolahku, kami pun mulai berteman baik, dan dia berhasil membuat aku melupakan sejenak tentang Bian, tanpa kusadari sedikit demi sedikit Riko telah mencuri perhatianku. Walau dalam pikiranku, tak akan ada yang bisa menggantikan Bian di hatiku. Tapi beberapa hari ini Riko terlihat sedikit aneh, dia seperti orang yang berbeda. Tapi aku seperti mengenal sesuatu yang berbeda didalam dirinya itu. Dari cara nya berbicara, caranya memperhatikanku, semua itu seperti tak asing bagiku. Bian, namanyalah yang terlintas didalam pikiranku pertama kali. Benar sekali, akhir-akhir ini Riko terlihat seperti Bian. Mungkin sangat sulit untuk dipercaya, tapi aku merasa Riko adalah Bian.
                “Hey La”
                Sontak panggilan itu membangunkanku dari lamunanku. Aku segera mencari sumber suara itu, yang ternyata berasal dari Riko.
                “Hey Rik, kamu mengejutkanku saja. Ada apa Rik?”
                “Tidak ada apa-apa kok, aku Cuma ingin bicara sama kamu aja La”
                “Bicara tentang apa?”
                “Hmm... Nanti sepulang sekolah kamu ada acara ngak?”
                “Kayaknya ngak ada deh, emangnya ada apa Rik?”
                “Gini lho, Kemarin waktu aku jalan- jalan disekitar sini, aku ngeliat ada tempat yang bagus banget, nanti pulang sekolah aku mau ajak kamu kesana, kamu mau ya”
                “Hah? Kenapa kamu ngajak aku? Kayak ngak ada orang lain aja”
                “Please La, aku pengen kamu nemanin aku kesana. Ayo lah..”
Aku tak sampai hati menolak ajakannya dan melihat Riko yang begitu memohon padaku. Tapi pertanyaan yang terlintas dibenakku yaitu, kenapa dia berpikir untuk mengajakku? Kenapa bukan Alia atau teman- temannya yang lain. Tapi, aku juga kan temannya, jadi tidak ada salahnya kalau aku menerima ajakkannya kan?
                “Udah dong Rik, jangan memohon kayak gitu dong. Oke aku ikut”
                “Aku tahu kok La, kamu pasti mau”
Ya ampun.. Riko senyum sama aku? Dan senyumannya itu manis banget, kenapa aku baru sadar ya?
Sepulang sekolah Riko telah menungguku didepan gerbang sekolah.
“La, kamu mau kemana? Kamu ngak pulang?”
“Iya, kamu duluan aja Al, aku ada janji sama Riko”
“Eheem.. Kayaknya ada yang lagi PDKT nih, ya udah good luck aja ya, aku senang kamu bisa membuka hati untuk orang lain lagi”
“Alia, kok kamu ngomong begitu sih? Aku dan Riko Cuma temen kok”
“Ciee marah nih, teman atau teman ya? Hahaha. Iya La, terserah kamu saja, aku hanya bercanda saja kok”
Alia lalu pergi sambil tersenyum mengejek padaku, tapi apa benar yang dikatakan Alia kalau aku mulai bisa membuka hatiku pada orang lain? Apakah orang itu Riko? Mungkin saja aku menyukainya, tapi dia tak akan pernah bisa menggantikan posisi Bian didalam hidupku. Aku lalu menghampiri Riko dan kami berdua pun pergi menuju ketempat yang dimaksud oleh Riko.
“Rik? Sebenarnya kita mau pergi kemana sih?”
“Lihat aja nanti”
“Tapi Riko, sepertinya aku sudah pernah lewat jalan ini, tapi kapan ya?”
Riko hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dariku.
“Nah, kita sudah sampai”
“Riko? Tempat ini kan?”
Ya ampun Tuhan, mengapa aku bisa lupa dengan tempat ini? Ini adalah tempat yang sering aku kunjungi bersama Bian, ini adalah tempat kenangan kami berdua. Kenapa Riko bisa terpikir untuk membawa aku kesini? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam benakku sejak aku bertemu dengan Riko. Aku pun tak bisa menahan air mataku lagi, dan aku mulai menangis dan kembali teringat dengan kepergian Bian. Melihatku yang tiba- tiba menangis, Riko pun mendekat kepadaku dan mulai memelukku. Aku sangat terkejut dengan respond yang dia berikan padaku. Tapi aku hanya bisa diam.
“Kamu kenapa La?”
“Ngak kok Rik, aku ngak apa - apa”
“Aku mohon La, kamu jujur sama aku, kamu percayakan sama aku? Aku tau, mungkin bagi kamu aku hanya orang baru yang tiba- tiba masuk kedalam kehidupanmu, tapi tak selamanya kamu bisa beranggapan seperti itu, kamu salah jika selalu memendam perasaan sedihmu itu seorang diri, sesungguhnya aku tau apa yang kamu rasakan saat ini La.”
Mendengar perkataan Riko, Aku pun melepaskan pelukannya. Dengan nada yang sedikit emosi aku pun menjawab perkataannya
“Apa kamu bilang? Kamu ngerti perasaan aku? Semua orang yang ada disekitar aku pasti mengatakan hal yang sama, tapi apa? Kalian Cuma mencoba menghibur ku saja. Ngak ada satu orang pun diantara kalian yang mengerti tentang perasaanku, kamu, Alia, bahkan Bian sekalipun, kalian ngak akan pernah mengerti”
Tak berapa lama, aku merasakan tenagaku hilang seketika, kakiku bergetar dan pada akhirnya aku terduduk lemas, dan mulai mengutarakan semua yang ada dalam benakku selama ini.
“Aku sudah kehilangan orang yang paling aku sayang, dia meninggal karena kecelakaan. Aku tahu, kalau bukan gara- gara aku, dia ngak mungkin meninggal. Semua gara- gara aku Rik, aku harus kehilangan Bian, aku memang bukan pacar yang baik untuk dia, Rik”
“Aku tau La, aku tau semua itu. Kamu tau kenapa aku bawa kamu kesini? Aku hanya berpikir untuk menghilangkan rasa sedih yang kamu alami saat ini. Kecelakaan itu bukan karena kamu, Bian meninggal karena dia sayang sama kamu, bukan karena kamu La, kamu pasti tau, kalau setiap mahluk hidup yang bernafas pasti akan mati. Begitu juga Bian, dia juga manusia, pasti ada saat nya dia akan dipanggil menghadap yang Kuasa.”
Sekilas aku melihat cahaya terang datang dan menghilang. Ya Tuhan, sejenak aku seperti melihat sosok Bian dalam diri Riko. Aku seperti melihat Bian kembali hidup dalam diri orang yang berbeda. Apa ini hanya perasaan ku saja?
Riko pun mendekati ku dan menghapus airmataku dengan kedua tangannya, dan tanpa kuduga sebelumnya, Riko mencium kening ku dan memelukku erat.
                “Kamu tau La? Aku ngak mau ngeliat kamu seperti ini terus, aku ingin kamu tersenyum lagi, seperti dulu”
“Bian?”
Riko hanya tersenyum saat aku memanggilnya Bian
“La, aku hanya bisa bersama mu saat ini saja, walau sesungguhnya aku ingin lebih lama lagi disampingmu. Tuhan telah memberi aku kesempatan untuk bisa bersamamu lagi walau hanya beberapa menit saja, saat ini aku adalah Bian, dan kamu tahu kalau aku kangen banget sama kamu, aku ngak ingin melihat kamu sedih terus menerus semenjak kepergianku, aku ingin Nila yang dulu, Nila yang selalu ceria dan tersenyum. Aku ingin kamu yang dulu La. Alia benar, di atas sana aku selalu memperhatikanmu, aku selalu sedih tiap kali melihatmu murung bahkan sempat berpikiran untuk mengakhiri hidupmu, satu- satunya hal yang bisa membuat aku bahagia adalah senyuman kamu La, dan yang paling membuat aku sakit dan tersiksa adalah melihat airmata yang menetes dari mata indah kamu La”
“Kamu Bian? Kamu benar- benar bian?”
“Iya, untuk saat ini aku memang Bian, dan aku ngak punya banyak waktu lagi. Aku ingin melihat kamu tersenyum bersama orang yang sayang sama kamu. Kamu tahu siapa yang aku maksudkan, dia adalah Riko. Saat ini Riko telah bersedia meminjamkan raganya untukku, aku yakin kamu pasti bisa bahagia bersama Riko. Aku percaya kalau dia bisa membuatmu tersenyum seperti dulu lagi. Aku sayang kamu La, sekarang dan sampai  kapanpun aku akan selalu sayang kamu”
“Bian, aku mohon jangan pergi lagi. Aku juga sayang sama kamu Bian”
“Aku tau itu La, ijinkan aku melihat senyuman mu itu untuk yang terakhir kalinya, aku mohon La”
Aku lalu menghapus airmata ku, dan memberikan senyuman termanisku padanya, aku sangat sayang kamu Bian, hanya itu kata yang pertama kali terlintas dalam benakku untuknya.
Dan pada akhirnya Bian pun pergi, walaupun begitu aku merasa sangat senang, karena aku tau Bian juga sangat sayang sama aku. Aku tau Bian tak ingin melihat aku sedih lagi, aku janji pada kamu Bian, aku ngak akan membuat kamu khawatir.
Tak berapa lama, terdengar suara kecil yang memanggil namaku
“Nila?”
Aku pun tersenyum memandang Riko yang baru sadar dari pingsannya. Dengan segera aku  menghampirinya dan membantunya bangun.
“Makasih ya Riko”
“Makasih untuk apa la?”
Tentu saja Riko yang tidak tahu akan hal yang baru saja terjadi terlihat bingung dan masih merasa aneh dengan apa yang terjadi padaku. Aku hanya bisa tersenyum, dan mencoba untuk kembali kedunia yang benar-benar nyata.
“Makasih ya Rik, kamu udah buat aku sadar kalau hidup ini indah. Aku tak akan mengulangi hal yang sama, aku yakin Bian ngak mau melihat aku sedih, karena dia sayang sama aku. Benarkan Rik?”
“Ya La, kamu benar. Aku tau bagaimana perasaan Bian, karena aku juga sayang sama kamu”
“Ri.. Riko?”
“Maaf La, aku tahu kalau aku memang tidak akan pernah bisa menggantikan Bian didalam hati kamu. Tapi aku juga tak bisa lebih lama lagi melihat kamu terpuruk dalam masa lalu mu. Aku tak pernah bisa melihat gadis yang aku sayang selalu murung dan menangis. Mungkin aku terlalu cepat untuk mengatakan ini padamu, tapi maukah kamu menjadi pacar ku?”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya itu, dan tidak ada alasan bagiku untuk menolak pertanyaan darinya.
“Kamu tahu, pesan terakhir Bian untukku adalah kamu Riko. Aku memang sayang sama Bian, tapi aku juga nga bisa menyangkal kalau aku juga sayang sama kamu. Iya Rik, aku mau”
“Nah, kalau begitu mulai sekarang aku mau senyuman kamu itu bukan hanya untuk Bian saja, tapi juga untuk aku ya”
Aku hanya tersenyum, dan mulai saat ini aku telah berjanji pada Bian dan Riko kalau aku akan memulai lembaran baru ini dengan senyuman. Karena aku sayang pada mereka berdua. Pada akhirnya Bayang-bayang cintaku itu telah menjadi semangat baru dalam hidupku untuk mulai mencari cinta yang baru. Dan semua itu dimulai ditempat yang sama, ditempat pertama kalinya aku mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya.

-SELESAI-


By : Flo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar