Perasaan yang Terpendam
Nama gue
Ira, gue adalah seorang cewek berstatus pelajar dan saat ini duduk di bangku
SMA kelas XII. Ngak terasa sudah tiga tahun gue bersekolah di sekolah gue ini,
dan selama itu juga gue telah mengagumi seorang pria yang selalu menjadi alasan
dan semangat gue disetiap pagi gue berada disekolah. Rama, itulah sosok pria
yang selalu gue kagumi dari kejauhan. Tak dapat dijelaskan mengapa gue begitu
mengaguminya, bahkan tak pernah satu patah katapun berani gue ucapkan saat
bertatap muka dengannya.
Perasaan itu semakin mendalam dan semakin menjadi-jadi
semenjak gue naik kekelas XII. Entah memang ini sebuah takdir dari yang kuasa
atau hanya sebuah kebetulan, gue dan dia dipertemukan untuk berada pada kelas
yang sama. Walaupun begitu, gue tetap saja tidak berani memandang wajahnya
secara langsung. Gue selalu bersembunyi dibalik bayangan yang mungkin tak akan
pernah terlihat olehnya. Dalam pikiran gue, selalu hadir sebuah pertanyaan
“Kapan sih loe bisa tau isi hati gue?” atau “Kapan sih loe bisa suka sama gue
dan jadi milik gue?” Namun mungkin semua itu hanyalah beberapa pertanyaan yang
mungkin tak akan pernah gue dapatkan jawabannya.
Saat sedang
asyik-asyiknya mengkhayal, gue mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke
arah gue, yang seketika itu juga langsung merusak lamunan tentang pangeran
pujaan gue itu
“Ra? Elo
kenapa bengong gitu? Senyum senyum sendiri lagi. Loe kesambet setan apa’an
pagi-pagi gini?” Ujar Sisil temen sebangku gue.
“Ahh...
Lo gangguin konsentrasi gue aja. Gue ini lagi mikirin sesuatu tau!” Jawab gue
dengan nada kesal.
“Lagi
mikirin sesuatu?” Kata Sisil kemudian. Terlihat jelas Sisil langsung mencari-
cari arah pandangan gue, lalu kemudian
tersenyum sinis sambil memukul pundak gue.
“Awww...
Apa’an sih loe? Pake acara mukul- mukul gue segala?”
“Sorry,
gue ngak sengaja Ra. Kayaknya gue tau deh loe lagi liatin siapa”
“Siapa?”
“Jangan bilang kalau loe lagi liatin si Rama ya? Ngaku
aja deh loe”
“Ra..rama?
Ahh... Ngapain juga gue liatin dia? Kayak ngak ada kerjaan aja. Rama itu kan
cowok incaran loe, ngak mungkin dong gue lagi liatin dia. Gue senyum-senyum
sendiri itu karena abis ngayalin sesuatu yang lucu. Makanya jangan sok tau deh
loe” Gue mencoba menutup- nutupi keadaan yang sebenarnya. Yaahhh.. Maklum aja,
kalau sampai Sisil tau gue suka sama Rama kan bisa bahaya. Habisnya setau gue
Sisil juga suka sama Rama. Gue ngak mungkin nunjukkin perasaan gue
terang-terangan didepan sahabat gue itu kan? Tapi, terlihat jelas raut penuh
kecurigaan dari wajah Sisil yang semakin memandang tajam kearah gue, tentu aja
gue langsung salah tingkah dipandangin kayak gitu sama Sisil.
“Loe
ngak bohong kan Ra?” Terlihat Sisil seperti sedang memojokkan posisi gue.
“Be..beneran
deh. Kok loe nanyanya gitu sih sama gue? Loe ngak percaya sama gue?” Gue
mencoba meyakinkan Sisil untuk tidak mencurigai gue lagi.
“Ra, loe
temen gue kan? Kalau loe suka, loe bilang aja sama gue, gue ngak bakalan marah
kok. Tapi semakin loe bohong dan nyembunyiin perasaan loe dan saat gue tau
semuanya, gue akan sangat marah sama loe” Ujar Sisil sambil menunjukkan sebuah
ekspresi yang terlihat semakin menyeramkan.
“Maaf
Sil, gue Cuma takut persahabatan kita hancur Cuma gara-gara cowok” ujar Gue
kemudian mencoba untuk mengutarakan isi hati gue, dan berharap Sisil ngak marah
sama gue saat itu.
Mendengar
gue berbicara seperti itu, Sisil kemudian terdiam dan menundukkan wajahnya. Dan
setelah kejadian itu, Sisil ngak berbicara sama gue sepatah katapun sampai bel
sekolah berakhir. Gue merasa sangat bersalah saat itu, gue bingung harus
ngapain. Gue hanya berharap besok semuanya akan kembali seperti semula.
Esok
harinya, gue merasakan sesuatu yang aneh saat gue memasuki ruang kelas pagi
itu, semua orang dikelas tampak memandangi gue dengan pandangan yang sangat
jarang gue dapatkan. Apa ada yang salah dengan gue pagi itu? Hanya itu sebuah
pertanyaan besar yang mengganggu pikiran gue. Bukan hanya itu, Sisil yang
biasanya menyapa gue setiap pagi pun juga memandangi gue dengan tatapan sinis.
Apa ini masih berhubungan dengan kata-kata gue kemarin? Ujar gue dalam hati.
Gue tetap mencoba untuk berpura-pura tidak tahu dan tetap bersikap seperti
biasa. Namun tetap saja semua yang gue lakukan tidak merubah apapun, mereka
tetap bersikap dingin sama gue.
Sudah
hampir tiga hari gue merasa diasingkan. Perasaan gue yang terus bertanya-tanya
‘kenapa mereka bersikap dingin sama gue’ membuat gue penasaran. Apakah ini
semua berhubungan sama masalah gue sama Sisil? Apa Sisil ngak terima kalau gue
suka sama cowok incaran dia? Padahal jika Sisil mau bicara baik-baik, gue juga
pasti akan mundur kok buat berharap sesuatu yang lebih buat dapetin Rama. Tanpa
pikir panjang lagi, gue memutuskan untuk menemui Sisil dan menanyakan langsung
padanya apa kesalahan gue sampai dia dan temen-temen gue yang lain jauhin gue.
“SISIL!”
Teriak gue sambil narik tangan Sisil ketempat yang tidak terlalu ramai.
“Apa’an
sih?” Ujar Sisil sambil menghentakkan tangan gue yang sedang memegang tangannya.
“Sil,
disini gue mau ngomong baik- baik sama loe sebagai seorang cewek. To the point
aja, apa loe ngak terima kalau gue suka sama Rama?”
“Suka?
Apa loe bisa bilang kayak gitu saat loe sendiri tau gue juga suka sama Rama?
Apa loe mau nikung gue dari belakang? Tega banget sih lo Ra, padahal gue
percaya sama loe”
“Please
Sil, loe jangan salah paham dulu. Gue juga udah lama suka sama Rama, tapi gue
ngak berani bilang sama loe, saat loe bilang sama gue kalau loe juga suka sama
Rama. Loe jangan egois dong Sil! Apa lo ngak mikir lebih sakit mana memendam
perasaan selama 3 tahun demi sahabatnya? Sementara sahabatnya sendiri malah
ngejudge gue yang udah ngorbanin semua perasaan gue demi dia. Apa loe masih
mikir kalau gue mau nikung loe dari belakang?”
Entah
mengapa saat itu airmata gue menetes begitu saja, gue ngak sanggup menahan
perasaan gue saat itu. Perasaan gue benar-benar bercampur aduk menjadi satu,
mulai dari marah, sedih, kesal dan kecewa, gue ungkapin semuanya sama Sisil
saat itu juga.
Dan setelah
gue ngeluapin semua perasaan gue, Sisil kemudian tersenyum sambil memandangi
gue yang menangis saat itu. Dia kemudian mengambil handphone nya dan
menunjukkan nya pada gue.
“Oke Ra,
elo udah bilang semuanya tadi. Dan apa yang elo omongin tadi udah gue rekam di
handphone gue”
“Maksud
loe apa’an sih Sil? Maksud loe ngerekam omongan gue tadi buat apa? Elo mau
nunjukkin rekaman itu sama Rama? Apa loe mau ngancam gue buat jauhin dia? Mau
loe apa sih?” Saat itu gue udah ngak bisa ngontrol emosi dan omongan gue. Gue
benar-benar kesal dan marah sama sikap Sisil yang seenaknya.
“Sssttt....
Diam dong. Udah selesai marahnya?” Ucap Sisil dengan nada mengejek.
“Ira
sayang, gue ngak perlu repot-repot kok nyampe’in rekaman ini ke Rama. Soalnya
Rama udah tau dan udah dengar sendiri semua omongan loe barusan”
“Maksud
loe?” Tanya gue yang semakin penasaran
“Coba
deh elo liat kebelakang” tunjuk Sisil yang mencoba memberi arahan kegue untuk
melihat kebelakang gue.
Gue pun
kemudian membalikkan badan gue, tiba-tiba badan gue jadi lemes dan seketika itu
juga tangisan gue pecah dan gue menangis sejadi-jadinya. Apa yang gue lihat
saat itu tidak pernah terpikirkan didalam benak gue. Disana telah berdiri sosok
pangeran pujaan gue, seorang cowok yang selama 3 tahun Cuma bisa gue lihat dari
jauh sekarang berada tepat didepan mata gue dengan jarak yang sangat dekat. Dan
yang bikin gue lebih ngak percaya lagi, Rama ngak sendirian tetapi bersama
dengan teman-teman sekelas gue yang belakangan ini bersikap dingin dan cuek
sama gue. Mereka datang membawa sebuah kue Tart sambil menyanyikan sebuah lagu
ulang tahun. Loe bisa bayangin ngak? Ternyata gue sedang dikerjain dan gue sama
sekali nggak tau.
Setelah
menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Rama pun kemudian datang menghampiri gue
sambil membawa sebuah kue tart ditangannya.
“Hei
Ira, silahkan tiup lilinnya” Ujar Rama sambil tersenyum manis pada gue. Gue
ngak tau apa yang saat itu gue rasakan, gue benar-benar kaget dan sangat syok
dengan apa yang gue alami saat itu. Gue pun menuruti kata-kata Rama dan meniup
kue ulang tahun yang dibawakan oleh Rama.
Tak lama
Sisil pun datang mendekati gue dan merangkul gue sambil tersenyum.
“Oke
teman-teman, ternyata rencana kita buat ngerjain Ira berhasil dengan sukses
kan?”
“Tunggu...tunggu...
maksud loe apa sih Sil? Bukannya loe itu?”
“Hahahahaha...
Gini deh biar gue klarifikasi semuannya ya Ira sayang. Sebenarnya gue udah lama
tau kalau loe itu suka dan naksir sama Rama.”
“Hah?
Loe tau darimana?” Tanya gue heran
“Ngak
perlu gue cari tahu kok, udah kelihatan jelas dari semua sikap dan tindakan loe.
Please deh Ra, percuma aja selama ini gue jadi sahabat loe kalau gue ngak tau
apa-apa tentang loe”
“Jadi?”
Tentu aja perasaan gue bercampur aduk disana, terlebih lagi gue harus menahan
malu karena secara tidak langsung gue telah mengungkapkan perasaan gue sama
Rama. Tak berhenti sampai disitu, Sisil pun melanjutkan perkataannya
“Sebenarnya,
gue itu ngak suka sama Rama. Gue Cuma pura-pura suka sama Rama buat mancing elo
supaya jujur sama gue. Dan satu hal yang perlu loe tau, gue dan Rama itu
sepupuan, jadi gue ngak mungkin pacaran sama dia”
“HAH?!
Sepupuan?” Tentu aja pernyataan yang terlontar dari mulut Sisil itu semakin
menciutkan nyali gue buat nunjukkin muka gue kehadapan Sisil, Rama dan
teman-teman gue yang lain. Saat itu gue benar-benar syok dan rasanya gue pengen
kabur dari situasi itu dan ngak balik-balik lagi.
Tak
berapa lama, Rama pun kemudian memberikan kue yang sejak tadi dipegangnya
kepada Sisil dan tiba-tiba Rama memegang tangan gue erat.
“Ira,
maaf kalau sebagai cowok gue bukan termasuk cowok yang gentleman. Tapi saat ini
juga, gue mau mencoba mengungkapkan semua perasaan gue yang udah lama banget
tersimpan dihati gue. Sebenarnya gue juga udah lama suka sama loe, tapi gue
Cuma berani ngeliat loe dari jauh. Bahkan buat ngomong sedekat ini pun gue ngak
pernah nyangka sebelumnya. Gue udah lama ngerencanain ini sama Sisil,
sebenarnya gue juga udah lama pengen ngutarain semuanya, tapi gue belum punya
cukup banyak keberanian buat ngelakuinnya sampai saat ini tiba. Gue juga pengen
ngucapin banyak terima kasih buat Sisil yang udah jadi penghubung secara tidak
langsung buat kita berdua. Dan saat ini juga gue ngumpulin semua keberanian gue
buat bilang, loe mau ngak jadi pacar gue?”
Mendengar
semua pernyataan-pernyataan yang mengejutkan itu tentu sangat membuat gue ngak
percaya dengan apa yang terjadi dalam hidup gue. Apa ini Cuma khayalan atau
mimpi-mimpi gue aja? Gue benar-benar syok dan ngak bisa berkata apa-apa.
“Ira?”
Ucap Rama dengan nada yang sangat lembut
“Apa loe
mau jadi pacar gue?” Ucapnya sekali lagi, dengan nada berharap. Tanpa pikir
panjang lagi gue lalu menjawab pertanyaannya itu.
“I...
Iya... Rama, gue mau kok jadi pacar loe” jawab gue sambil tersipu malu.
Mendengar
jawaban gue, Rama pun seketika langsung memeluk gue erat.
“Makasih
ya” Ucap Rama lagi sambil tersenyum manis.
“Nahh... Gitu dong. Akhirnya dua insan yang selama ini
menyembunyikan perasaan mereka ini jadian juga. Makanya Ra, sebagai cewek loe
ngak boleh sepenuhnya berkorban perasaan, setidaknya tunjukkan. Elo juga Ram,
jadi cowok tuh harus gentleman dong! Jangan jadi cowok yang pengecut. Coba
kalau ngak ada gue? Pasti kalian bakal terus diam sambil nyembunyiin perasaan
kalian kan?”
“Iya...
iya... Makasih ya Sisil” Jawab gue dan Rama serentak.
Sejak hari
itu, tepat dihari ulang tahun gue, gue jadian sama pangeran pujaan gue, sosok
cowok yang bahkan ngak akan pernah terbayangkan dalam benak gue bakalan jadian
sama dia. Walaupun kisah cinta gue ngak akan pernah seromantis kisah dibuku
buku yang pernah gue baca, ataupun film-film yang pernah gue tonton, tapi gue
bahagia jika pada akhirnya gue bisa bersama dengan cowok yang gue suka, dan
ternyata juga menyukai gue.
By. Florentina Ani
yang ini ceritanya di ambil dari kisah teman , diri sendiri atau gmana haa kepo
BalasHapusBukan kisah siapa-siapa kok :D
BalasHapusBanyak sih yang mau di komentarin tapi good job aja deh
BalasHapusoke oke... terima kasih sudah membaca. hahaha
BalasHapus